Tujuh Bahasa Perlu Dikuasai dalam Mempelajari Sejarah Indonesia -->

Silakan ketik kata kunci

Recent Posts

Tujuh Bahasa Perlu Dikuasai dalam Mempelajari Sejarah Indonesia

 

 


Oleh: Kyota Hamzah

 

Bahasa adalah alat penelitian penting untuk mempelajari sejarah, khususnya sejarah Indonesia, yang banyak sekali sumbernya. Bahasa sebagai alat yang memudahkan kita dalam meneliti, memahami, dan mempelajari sejarah.

 

Ada tujuh bahasa yang perlu dipelajari. Namun, tidak harus semuanya, karena setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda. Minimal dua bahasa yang dikuasai, sudah syukur Alhamdulillah. Kalaupun lebih, termasuk nikmat yang perlu disyukuri dalam mempelajari bahan sejarah.

 

Kira-kira, bahasa apa saja yang perlu dipelajari? Mungkin ini bisa menjadi "Guide" bagi kita semua:

 

1. Bahasa Inggris
 
Bahasa Inggris merupakan bahasa yang paling dasar untuk mengambil bahan kajian dari google scholar maupun libgen. Selain itu, beberapa situs resmi negara lain juga memakai Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.

 

2. Bahasa Tionghoa
 
Bahasa Tionghoa termasuk opsional, karena bahasa ini memiliki cabang yang sangat banyak, baik Bahasa Hokkian, Kanton, maupun yang lain. Mengapa Bahasa Tionghoa? Sebab Tiongkok dan Nusantara memiliki kedekatan yang panjang sekali, bahkan sebelum orang-orang Eropa datang.

 

3. Bahasa Arab
 
Selain sebagai pengantar ilmu agama, Bahasa Arab merupakan alat penting dalam mempelajari naskah-naskah penting, yang berhubungan dengan sejarah kedatangan orang-orang Arab dengan Bumiputera. Bahasa Arab menjadi sarana untuk menelusuri hubungan dagang dan perjalanan para peziarah yang singgah di Nusantara.

 

4. Bahasa Belanda
 
Bagi pegiat sejarah yang fokus pada sejarah Kolonial Belanda, maka wajib menguasainya. Sebab, Bahasa Belanda merupakan bahasa yang jamak ditemui oleh pegiat sejarah Kolonial. Bahasa Belanda merupakan alat penting dalam menerjemahkan dokumen-dokumen milik pemerintah Hindia Belanda, baik di Indonesia maupun di Belanda sendiri.

 

5. Bahasa Melayu
 
Bahasa Melayu perlu diperhatikan juga, sebab Bahasa Melayu memiliki cabang tersendiri. Sebagaimana Bahasa Tionghoa, Bahasa Melayu merupakan Lingua Franca masyarakat Nusantara sebelum Bahasa Indonesia.

 

6. Bahasa Jawa
 
Dalam mempelajari sejarah klasik Jawa, Bahasa Jawa menjadi pilihan yang tepat. Karena beberapa naskah klasik menggunakan Bahasa Jawa. Namun, Bahasa Jawa mempunyai klasifikasi yang berbeda pada setiap zaman. Ada aksara Jawa Kuno, Jawa Kawi, Jawa Sriwedari (hanacaraka), dan aksara Latin.

 

7. Bahasa Madura
 
Bahasa Madura menjadi pamungkas, karena sejatinya Madura mempunyai kisah tersendiri. Madura memiliki catatan yang sama tuanya seperti Bahasa Melayu dan Bahasa Jawa. Bahasa Madura bisa menjadi bahan pembanding dalam mempelajari sejarah Nusantara.
 
Editor: Suyanik

 

Join Telegram @rafifamir @rafif_amir
Cancel