Makam Dewi Sekardadu, Sebenarnya Ada di Mana? -->

Silakan ketik kata kunci

Recent Posts

Makam Dewi Sekardadu, Sebenarnya Ada di Mana?

 

Oleh Eny Widijaningsih

Masyarakat Sidoarjo sudah tidak asing lagi dengan sejarah Dewi Sekardadu, di mana makamnya telah menjadi salah satu wisata religi di Sidoarjo. Makam Dewi Sekardadu berada di Desa Kepetingan, Kecamatan Sawohan. Namun, sayangnya belum banyak pengunjung yang datang ke sana karena akses jalannya yang belum memadai.

Akses ke makam Dewi Sekardadu bisa melalui darat, dari Desa Sawohan, melintasi tambak sejauh 10 km dan alat transportasi hanya bisa menggunakan sepeda motor untuk menjangkaunya, meskipun saat ini akses jalan ke makam telah di pasang paving block dan lebar jalan hanya satu meter. 

Sedangkan, jika melewati jalur sungai, lewat sungai Kepetingan dengan menggunakan perahu nelayan yang disewakan, untuk jalur sungai menuju ke makam membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam.

Pada bulan-bulan tertentu makam Dewi Sekardadu selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat, terutama masyarakat sekitar. Tujuan mereka mengunjungi makam Dewi Sekardadu untuk berziarah dan berdoa terutama pada upacara Nyadran. Upacara yang digelar setiap bulan Ruwah, tepatnya seminggu sebelum menjalankan puasa ramadhan. Upacara nyadran sebagai ungkapan rasa syukur  kepada Sang Pencipta atas berkah laut, yang memberikan penghidupan kepada para nelayan. Ritual nyekar makam Dewi Sekardadu akhirnya menjadi tradisi turun-temurun para nelayan di Sidoarjo.

Jika para pengunjung datang ke sana, penasaran ingin tahu sejarah Dewi Sekardadu, maka di sana ada juru kunci yang siap menjadi Tour Guide. Warga Sidoarjo sangat meyakini, bahwa makam Dewi Sekardadu yang asli berada di Sidoarjo, meskipun ada beberapa kontroversi letak makam Dewi Sekardadu juga berada di Gresik.

Siapakah Dewi Sekardadu? Dewi Sekardadu bukanlah perempuan biasa. Dia adalah Ibunda Sunan Giri dan juga putri Raja Blambangan, Banyuwangi, Menak Sembuyu, salah satu keturunan Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit. Dia menikah dengan  Syekh Maulana Ishak, seorang pemuda berbudi pekerti luhur yang telah menyembuhkan penyakitnya. Namun, adanya tipu daya dari sang maha Patih Bajul Sengara, Dewi Sekardadu akhirnya terpisah dari suami dan anaknya.

Konon, ceritanya putra Dewi Sekardadu diculik dan dihanyutkan ke laut, lalu ditemukan oleh nahkoda kapal dan  diserahkan kepada pemilik kapal, yakni Nyi Ageng Pinatih seorang pengusaha kaya dari Gresik.

Putra Dewi Sekardadu kemudian diasuh dengan baik dan diberi nama Joko Samodra. Ketika sudah besar Joko Samodra dikirim untuk belajar di Surabaya, ke Pondok Pesantren Ampeldenta yang diasuh oleh Sunan Ampel.

Dewi Sekardadu sendiri pada akhirnya keluar dari istana untuk mencari putranya. Ada versi cerita perjalanan pencarian Dewi Sekardadu mencari putranya. Ada yang menceritakan bahwa Dewi Sekardadu menumpang kapal menuju Surabaya berharap mendapat informasi mengenai keberadaan putranya. Namun nasib malang, kapal yang ditumpangi, dihantam ombak dan tenggelam. Tubuh Dewi Sekardadu ditemukan oleh nelayan dan dibawa pulang ke Desa Kepetingan yang pada akhirnya, Dewi Sekardadu tinggal dan menetap di sana.

Ada versi cerita berbeda, setelah Dewi Sekardadu mengetahui anaknya diculik dan dihanyutkan ke laut, dia mengejar putranya dan menceburkan diri ke laut. Tenggelamlah Dewi Sekardadu dan jasadnya terbawa ombak menuju ke Sidoarjo. Konon, jasad Dewi Sekardadu ini didorong atau digotong beramai-ramai oleh ikan keting hingga ke tepi pantai. Dari peristiwa tersebut, tempat itu kemudian dinamakan Ketingan atau Kepetingan.

Sampai saat ini makam Dewi Sekardadu menjadi destinasi wisata religi, walaupun hanya pada bulan-bulan tertentu saja yang ramai pengunjung dan peziarah.

Inilah sekelumit cerita mengenai salah satu sejarah unik di Sidoarjo, semoga bisa menjadi referensi dan bacaan di waktu senggang untuk lebih mengenal tentang Sidoarjo. Semoga bermanfaat.

Editor : Fie R
Join Telegram @rafifamir @rafif_amir
Cancel