Pondok Pesantren Tertua di Jawa Timur Ternyata Ada di Sidoarjo -->

Silakan ketik kata kunci

Recent Posts

Pondok Pesantren Tertua di Jawa Timur Ternyata Ada di Sidoarjo


Oleh Eny Widijianingsih

Sering berdiskusi, walaupun lewat media sosial membawa banyak manfaat dan solusi. Terutama untuk menumbuhkan ide-ide ketika mengalami kebuntuan ide, sudah mencoba membaca buku dan berselancar di google masih belum muncul ide.

Dari obrolan yang tidak sengaja, tiba-tiba tercetus obrolan sejarah yang terukir di Kabupaten Sidoarjo. Mungkin sedikit orang yang mengetahui tentang podok pesantren tertua di Jawa Timur. Setelah pondok pesantren Sidogiri Pasuruan, terdapat pondok pesantren Al Hamdaniyah di Kabupaten Sidoarjo.

Menelusuri beberapa referensi, ternyata pondok pesantren tertua di Jawa Timur adalah Pondok Pesantren Al Hamdaniyah, yang menjadi cikal bakal lahirnya Nahdlatul Ulama (NU).

Menilik sejarah berdirinya pondok pesantren Al Hamdaniyah, pondok ini berdiri sejak abad XVIII. Pondok pesantren ini menjadi salah satu saksi sejarah kemerdekaan negara yang kita cintai. Pada zaman perjuangan memperebutkan kemerdekaan, para pejuang berkumpul di pondok pesantren ini.

Pondok pesantren yang didirikan oleh seorang ulama besar berasal dari Pasuruan K.H. Khamdani pada tahun 1787 di Desa Siwalan Panji Kecamatan Buduran. Uniknya, hingga saat ini, masih tetap mempertahankan bentuk bangunan yang asli.

Pondok pesantren ini telah melahirkan banyak ulama besar seperti; K.H. M. Hasyim Asy’àri, K.H. Asy’àd Syamsul Arifin, K.H. Ridwan Abdullah (pencipta lambang Nahdlatul Ulama), K.H. Alwi Abdul Aziz, K.H. Wahid Hasyim, K.H. Cholil, K.H. Nasir (Bangkalan), K.H. Wahab Hasbullah, K.H. Umar (Jember), K.H. Usman Al Ishaqi, K.H. Abdul Majid (Pamekasan), K.H. Dimyati (Banten).

Ternyata kyai besar pendiri Nahdlatul Ulama juga seorang tokoh yang mempunyai andil besar dalam mencetuskan Piagam Jakarta, sekarang kita kenal dengan Pancasila, pernah belajar di pondok pesantren Al Hamdaniyah.

Uniknya, hingga saat ini kamar tempat kyai pencetus NU masih terjaga dengan baik dan terawat keasriannya. Menurut pengajar di sana, memang sengaja dilakukan untuk mengingatkan para santri bahwa menjadi seorang tokoh besar tidak harus dengan fasilitas yang mewah. (very amazing).

Selain mengajarkan ilmu agama pondok pesantren ini juga menjadi saksi sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Pondok ini menjadi tempat pertemuan antara Presiden Soekarno, Bung Hatta, Bung Tomo, yang pada akhirnya Laskar Hizbullah.

Sekelumit sejarah berdirinya pondok pesantren ini memberikan rasa bangga, terutama saya sebagai masyarakat Sidoarjo. Membaca sejarahnya rasanya tidak ada habisnya, apalagi mengupasnya dan mewujudkan dalam karya tulis, jika direfleksikan dengan keadaan sekarang di Desa Siwalan Panji.

Kebetulan putri kecil saya juga menuntut ilmu di desa penuh sejarah ini. Memasuki desa ini terlihat jelas nuansa religiusnya. Jalan-jalan diberi nama para Kyai Besar. Di Desa Siwalan Panji ini juga terdapat “KAMPUNG SINAU” yang sudah mendunia. Desa ini sering didatangi oleh Native speaker atau simpatisan mancanegara.

Apalagi di pagi hari, aktivitas anak-anak mengaji dari TPQ bisa kita jumpai di sepanjang jalan di setiap gang desa ini, luar biasa. Di desa ini juga banyak berdiri sekolah-sekolah swasta favorit mulai dari TK hingga SMA. Ada juga Perguruan Tinggi milik Pesantren Al Khoziny, pendirinya keturunan  dari ponpes Al Hamdaniyah.

Rasa bangga ketika menulis tentang sejarah ponpes ini, mengenal kehidupan di desa sejuk bernuansa religius. Sedikit yang saya ketahui tentang sejarah desa ini, semakin menumbuhkan minat untuk mengenal lebih jauh bagaimana K.H. Khamdani keturunan dari Sayyid Slagah Pasuruan memilih Desa Siwalan Panji ini.

Bagaimana perjuangan kyai yang memiliki nasab Khamdani putra Muroddani bin Sufyan bin Khasan Sanusi bin Sa`dulloh bin Sakarudin bin Mbah Soleh Somendi Pasuruan. Kiprahnya berdakwa mendirikan pesantren hingga membentuk kereligiusan masyarakat desa Siwalan Panji.

Selamat membaca! Sedikit sejarah yang terukir di Sidoarjo, mudah-mudahan di lain kesempatan bisa mendapat informasi yang lebih akurat dan bisa mengupas sejarah ini lebih gamblang lagi.

Editor: Suyanik
Join Telegram @rafifamir @rafif_amir
Cancel