Masyumi Melawan Komunis -->

Silakan ketik kata kunci

Recent Posts

Masyumi Melawan Komunis


Muktamar VII Partai Masyumi, 3-7 Desember 1954 di Surabaya menghasilkan keputusan tegas yang tak dapat ditawar: "Siapa yang dengan sadar dan yakin menganut komunisme, maka ia kafir!"

Keputusan ini menguatkan fatwa Majelis Syura Masyumi Jawa Barat, dua bulan sebelumnya yang mengatakan haram hukumnya bagi umat Islam bergabung menjadi anggota PKI.

Namun demikian, kesatuan pandangan terhadap komunisme dalam tubuh Masyumi melahirkan penyikapan yang berbeda oleh tokoh-tokohnya. 

Samsuri dalam bukunya Politik Islam Anti Komunis, menyebut ada 3 faksi besar dalam Masyumi yang memiliki tanggapan berbeda dalam melawan komunisme. Faksi Sukiman, faksi Natsir, dan faksi Isa Anshary.

Faksi Sukiman lebih menitikberatkan pada edukasi terhadap Umat Islam tentang apa itu Marxisme dan mengapa bertentangan dengan Islam. Dengan demikian, diharapkan kesadaran umat akan tumbuh dan secara otomatis akan menolak komunisme.

Berbeda dengan faksi Sukiman, sedari awal Natsir menolak komunisme karena dianggap memperkosa tabiat dan hak-hak asasi manusia. Ia bersama Sjafruddin Prawiranegara bahkan menyusun Tafsir Azas Masyumi yang dengan tegas mengatakan sosialisme materialisme-historis yang dianut Marx tidak sama dengan sosialisme Islam. Sikap Natsir dalam menolak komunisme ini semakin mengkristal ketika di era demokrasi terpimpin Soekarno justru bermesraan dengan PKI. Sebagai bentuk protes dan perlawanan, Natsir kemudian bergabung dengan PRRI.

Faksi Isa Anshary lebih "radikal" lagi. Sebelumnya ia bahkan telah mendirikan Front Anti Komunis (FAK) bersama sejumlah kader Masyumi Jawa Barat. Meski tak mendapat restu dari Pusat, FAK tetap bergerak melakukan upaya-upaya perlawanan terhadap komunis secara massif. Tak pelak, gesekan-gesekan hingga yang mengarah pada benturan fisik tak dapat dihindari. Sukiman menentang cara-cara yang dilakukan Isa Anshary ini. Sebaliknya menurut Isa Anshary, selain untuk membendung arus komunis yang semakin besar, cara itu digunakan sebagai senjata politik untuk menghabisi PKI.

Benar saja, Aidit mulai kebakaran jenggot. Ia merasa terancam dan mengutuk aksi-aksi yang dilakukan FAK. Namun Aidit tahu diri, kekuatan Masyumi jauh lebih besar. Maka ia menawarkan kompromi dan kerjasama, yang lantas ditolak mentah-mentah oleh Masyumi. Masyumi menilai tawaran itu sebagai siasat Aidit--yang saat itu mesra dengan kabinet Ali-- untuk menjatuhkan Masyumi.

Pasca kabinet Ali bubar dan digantikan oleh kabinet Burhanuddin Harahap--yang notabene kader Masyumi--peruncingan PKI dan Masyumi semakin menguat. Pers PKI meledek kabinet Burhanuddin dengan menyingkat sebagai "Kabinet B.H." sementara pers Masyumi menyebut PKI sebagai akronim dari "Partai Kafir Indonesia".

Ketua Umum Partai Masyumi, M. Natsir mengatakan, "Setiap serangan dari pihak mereka yang dilakukan secara zakelijk akan dilayani sepenuhnya oleh Masyumi. Sebab kalau serangan mereka didiamkan saja atau tidak digubris, akibatnya akan menguntungkan PKI."

"Menjadi kewajiban Masyumi untuk membalas serangan PKI, karena partai-partai lainnya rupa-rupanya tidak akan melayaninya," tegas Natsir.

Demi menangkal serangan-serangan PKI, Partai Masyumi juga memberikan pendidikan politik yang intens pada kader-kadernya, baik secara langsung maupun melalui media. Masyumi juga mengeluarkan daftar bacaan wajib bagi kader Masyumi, diantaranya: Falasafah Perdjoeangan Islam karya Isa Anshary, Pribadi karya Hamka, dan Islam sebagai Ideologi karya M. Natsir.

Sayang, usia Masyumi tak cukup panjang. Manuver PKI yang terus mendesak Soekarno membubarkan Masyumi menemukan momentumnya ketika beberapa tokoh penting Masyumi terlibat dalam PRRI yang oleh Soekarbo disebut sebagai pemberontakan.

Tahun 1960 Masyumi bubar, disusul 6 tahun kemudian oleh PKI.

Penulis: Rafif Amir
Editor: Rafif Amir

Join Telegram @rafifamir @rafif_amir
Cancel