Aidit Menolak Pancasila -->

Silakan ketik kata kunci

Recent Posts

Aidit Menolak Pancasila


Menjelang 1965, situasi politik kian memanas. PKI melakukan serangan besar-besaran terhadap lawan politiknya. Setelah berhasil memengaruhi Bung Karno untuk membubarkan Masyumi dan PSI, PKI merasa semakin tinggi. Karenanya, Aidit semakin berani.

Oktober 1964, di hadapan peserta Kursus Kader Revolusi, Aidit menyampaikan pidatonya yang kontroversial dan dikutip oleh Harian Berita Indonesia: "Kalau kita sudah bersatu, Pancasila tidak diperlukan, sebab Pancasila adalah alat pemersatu. Pancasila sebagai falsafah persatuan, tetapi masing-masing golongan sudah punya paham sendiri-sendiri."

Bagi golongan yang kontra-PKI, pidato Aidit itu jelas menunjukkan arah "perjuangan" PKI. PKI hendak mengubah Pancasila menjadi ideologi komunis! Pancasila dianggap tidak relevan, dan "paham sendiri-sendiri" seperti komunisme-lah yang layak dipertahankan.

Topeng PKI terkuak. Media-media kontra PKI segera menghujani Aidit dengan "pukulan" bertubi-tubi.
20 Oktober, Harian Revolusioner mengatakan, "Bagi kita ini merupakan satu ucapan yang berbahaya dari seorang tokoh sebesar D.N. Aidit... Bukan saja kita sesalkan tetapi juga mengutuk dan mencela dengan tegas ucapan yang bercandu itu."

Sementara Harian Merdeka menyerukan, "Kita terpaksa berseru: pada patriot bangsa Pancasila, waspadalah. Amankanlah Pancasila!" Merdeka menuding, PKI selama ini menerima Pancasila sebagai kedok saja. Tapi sebenarnya tidak.

Harian Berita Republik mengatakan, "Ucapan Aidit yang menganggap Pancasila sekadar sebagai alat pemersatu merupakan pengerdilan dari sifat agung Pancasila kita."

Harian Warta Berita lebih keras lagi, dengan mengatakan Aidit Cs bukan Manipol-Pancasilais sejati, melainkan Manipol-Pancasilais munafik atau gadungan. Di mulut ngomong Pancasila, tapi hatinya komunis.

Memang, ajaran Pancasila dan Komunisme tidak akan bertemu. Keduanya bertolak belakang. Sehingga sangat aneh jika PKI menyatakan menerima Pancasila dan mengaku sebagai Pancasilais sejati.

Tetapi, atas tudingan-tudingan itu, Aidit tak tinggal diam. Aidit membalas serangan media-media itu, lewat media corong PKI, Harian Rakjat, Bintang Timur, dan Ekonomi Nasional. Mereka menuduh media-media kontra-PKI itu telah dibeli oleh CIA.

Tak cukup itu, Aidit menerbitkan transkip palsu pidatonya sebagai pembelaan diri. Lalu ia menerbitkan buku berjudul "Membela Pantjasila" untuk membersihkan namanya dari tuduhan-tuduhan yang ia sebut "subversif" dan "kontrarevolusioner".

Padahal saat itu, seluruh tokoh dari Perti, NU, Murba, Partai Katolik, dan sebagian tokoh PNI seperti Hardi, S.H, mengecam keras pidato Aidit. Namun kemudian polemik itu ditutup menyusul polemik baru yang sengaja dibikin PKI. Ditambah instruksi Wakil Perdana Menteri Chaerul Saleh agar perdebatan itu disudahi.

Untuk sementara, PKI merasa di atas angin. Mereka tak menyadari, bara api yang mereka sulut akan membakar diri mereka sendiri, setahun kemudian.

Penulis: Rafif Amir 
Editor: Rafif Amir 
Join Telegram @rafifamir @rafif_amir
Cancel