3 Faktor Kegagalan Gerakan 30 September (G-30S/PKI) -->

Silakan ketik kata kunci

Recent Posts

3 Faktor Kegagalan Gerakan 30 September (G-30S/PKI)


Gerakan 30 September menjadi awal kehancuran PKI yang disebut-sebut sebagai Partai Komunis terbesar ketiga di dunia.

Sejak kepemimpinan diambil alih oleh Dipa Nusantara Aidit pada 1950--pasca tewasnya Muso--harus diakui PKI mengalami perkembangan yang cukup pesat. Dalam sidang pleno ke-2 CC PKI, Desember 1960, Aidit menyebut partainya memiliki 2,5 juta kader dan telah berhasil mengorganisir 7 juta petani di 42.575 desa.

Klaim Aidit ini bisa jadi benar. Sebab nyatanya, pada Pemilu 1955, PKI berada di urutan keempat dengan mengantongi 6.176.914 suara atau 16,4% dari total perolehan suara nasional. Aidit seperti unjuk kekuatan dan hendak mengatakan, "Andai pemilu diselenggarakan sekarang, maka PKI akan melampaui 3 besar!"

PKI memang besar, sebab ia menyusu pada kekuasaan. Dan dengan cara itulah Aidit menghabisi lawan-lawan politiknya. Bubarnya Masyumi yang notabene musuh utama PKI, menjadi kemenangan baru bagi Aidit Cs di pentas perpolitikan nasional.

PKI merasa berada di atas angin. Tak memiliki saingan. Hubungan Aidit dan Soekarno juga semakin mesra. Media-media yang kontra PKI dibredel. Musuh bebuyutan PKI tinggal Angkatan Darat.

Aidit merasa harus segera "membereskan" Angkatan Darat. Isu Dewan Jenderal yang coba dihembuskan untuk membenturkan Soekarno dan Angkatan Darat ternyata tak sepenuhnya berhasil. Maka jalan satu-satunya adalah, menghabisi jenderal-jenderal yang oleh PKI disebut "kontrarevolusioner". Merekalah yang kelak kita kenal sebagai pahlawan revolusi.

Kunjungan Aidit ke Peking untuk bertemu Mao Zedong, menurut Victor M Fic, adalah pemicu utama lahirnya Gerakan 30 September. Saat itu Soekarno sedang sakit parah. Mao menyarankan Aidit mempercepat kudeta, karena jika Soekarno wafat, kekuasaan akan diambil alih oleh Angkatan Darat.
Inilah strategi yang dimainkan PKI. Mereka melakukan kudeta melalui tangan-tangan Cakrabirawa, pengawal khusus presiden. Pasca kudeta, diharapkan akan terjadi chaos di tubuh Angkatan Darat dan di saat itulah PKI akan mengambil keuntungan.

Sayang, skenario PKI gagal total. Setidak ada 3 faktor penyebabnya.

Pertama, meski PKI berhasil masuk dan mempengaruhi sebagian personil TNI terutama AURI, namun kesiapan PKI dalam mengamankan aset-aset strategis sangat lemah. Dalam waktu cepat, RRI dan Halim Perdanakusuma yang menjadi markas PKI berhasil kembali dikuasai oleh Angkatan Darat.

Kedua, kudeta yang dilakukan PKI terlalu dini. PKI merasa kuat, tapi ia lupa kekuatan Angkatan Darat belum bisa dipatahkan. Kudeta PKI yang memanfaatkan sakitnya Bung Karno justru menjadi jalan PKI menggali kuburnya sendiri.

Ketiga, organisasi PKI tak serapi dan sedisiplin Angkatan Darat dalam menjalankan tugasnya. Dekrit Dewan Revolusi yang digaungkan PKI pasca kudeta hanya menggema di Jawa Tengah. Karena memang daerah itu adalah basis terbesar PKI. Tetapi tak berselang lama, upaya PKI untuk merebut kantor pemerintahan bisa digagalkan.

Langkah cepat diambil oleh Angkatan Darat. Bersama rakyat, unsur-unsur PKI yang berpotensi melanjutkan amanat Dewan Revolusi segera dihabisi.

M. Roem dalam pidatonya pada Sidang Liga Antikomunis Se-Dunia menyebut alasan kenapa harus terjadi pembunuhan massal terhadap PKI. Ia mengatakan, "Mohammad Natsir ketika itu berada di dalam tahanan. Ketika beliau mendengar terjadinya pembunuhan-pembunuhan itu, beliau mengirimkan pesan kepada teman-temannya, tokoh muslim di mana saja, untuk tidak melakukan pembunuhan dan menghindarkan orang-orang untuk membunuh. Akan tetapi Dr Natsir terpaksa harus puas dengan jawaban bahwa karena dihadapkan kepada dua pilihan mutlak maka mereka harus menentukan sikap: dibunuh oleh komunis atau membunuh mereka."

Penulis: Rafif Amir 
Editor: Rafif Amir 
Join Telegram @rafifamir @rafif_amir
Cancel